Pernahkah Anda melihat penggunaan batu alam pada lantai pedestrian atau hiasan dinding rumah?
Atau mungkin Anda pernah mengalami kendala lantai pedestrian atau halaman rumah yang licin, cepat rusak, dan kurang estetik?
Masalah seperti ini sering kali menjadi tantangan bagi pemilik rumah maupun pengelola ruang terbuka.
Solusinya bisa sederhana namun sangat penting, yaitu penggunaan flooring batu andesit.
Artikel ini akan menjelaskan kepada anda tentang apa itu batu alam, khususnya batu andesit, macam-macam jenisnya, serta alasan mengapa batu ini sangat berfungsi untuk berbagai kebutuhan konstruksi dan dekorasi.
Dengan memahami konsep dan karakteristik batu andesit, Anda dapat membuat pilihan yang tepat untuk memperkuat dan memperindah ruang outdoor Anda sekaligus menghindari masalah yang umum terjadi pada penggunaan material lain.
Apa itu pedestrian?
Memahami apa itu pedestrian penting untuk dilakukan sebelum mengetahui bagaimana batu andesit cocok diterapkan sebagai material untuk pedestrian.
Pedestrian adalah jalur khusus yang disediakan bagi pejalan kaki untuk bergerak dengan aman dan nyaman.
Jalur ini biasanya terletak di area publik seperti trotoar, taman, dan halaman rumah.
Fungsi utamanya adalah memisahkan ruang pejalan kaki dari kendaraan bermotor, sehingga meminimalkan risiko kecelakaan.
Penggunaan flooring yang tepat pada jalur pedestrian sangat penting. Flooring dengan batu alam, terutama batu andesit, menjadi solusi ideal karena memiliki permukaan yang kuat dan tidak licin.
Hal ini mencegah penggunaan pedestrian yang tidak sesuai fungsi, dan berpotensi membahayakan pengguna.
Selain itu, pemilihan material lantai yang salah sering kali mengakibatkan pemborosan anggaran akibat perbaikan atau penggantian yang terlalu cepat.
Dengan memasang flooring batu andesit yang tahan lama dan fungsional, jalur pedestrian dapat menjadi tempat yang aman, estetis, dan hemat biaya perawatan.
Oleh karena itu, material batu alam ini sangat penting dalam mendukung keamanan dan kenyamanan ruang pejalan kaki.
Apa Saja Jenis-Jenis Pedestrian?
Jenis pedestrian dapat terbagi berdasarkan beberapa klasifikasi, seperti letak konstruksi, proses terbentuknya, dan fungsinya. Berikut penjelasan singkat berdasarkan klasifikasi tersebut:
1. Berdasarkan Letak Konstruksi
- Pedestrian Terbuka adalah jalur pejalan kaki yang berada di luar bangunan. Contohnya berupa trotoar (sidewalk), footpath (jalan setapak), plaza, dan pedestrian mall.
- Pedestrian Terlindung merupakan fasilitas jalur pedestriannya berada di dalam atau di bawah bangunan. Contohnya adalah koridor, arcade, selasar tertutup, atau lorong-lorong dalam gedung.
2. Berdasarkan Fungsi
- Jalur Pejalan Kaki Secara Umum: Jalur standar seperti trotoar untuk aktivitas berjalan kaki sehari-hari.
- Jalur Penyeberangan: Tempat bagi pejalan kaki untuk menyeberang jalan, misalnya berupa zebra cross, skyway (jembatan penyeberangan), dan subway (terowongan bawah tanah).
- Jalur Rekreasi: Area khusus untuk berjalan santai dan interaksi sosial, seperti plaza dan taman pedestrian.
Karakteristik Jalur Pedestrian
Karakteristik jalur pejalan kaki atau pedestrian yang menjadi bahan pertimbangan dalam membangun kawasan perkotaan adalah sebagai berikut:
a. Karakteristik fisik
Karakteristik ini dipengaruhi oleh ukuran tubuh manusia dan daya gerak yang digunakan untuk mengetahui kebutuhan ruang bagi gerakan normal manusia.
Kemampuan fisik pejalan kaki berhubungan dengan jarak tempuh yang mampu dijalani. Hal-hal yang mempengaruhi jauhnya jarak berjalan kaki yaitu:
Motif
Keinginan yang kuat dalam berjalan kaki dapat mempengaruhi orang untuk berjalan lebih lama atau jauh. Motif rekreasi mempunyai jarak yang relatif lebih pendek, sedangkan motif berbelanja bisa lebih dari 2 jam dengan jarak sampai 2,5 km oleh pejalan kaki.
Kenyamanan yang dipengaruhi oleh faktor cuaca dan jenis aktivitas.
Cuaca yang buruk akan mengurangi keinginan orang berjalan. Di Indonesia, dengan cuaca yang panas orang hanya ingin menempuh 400 meter, sedangkan untuk aktivitas berbelanja membawa barang, keinginan berjalan tidak lebih dari 300 meter.
Ketersediaan fasilitas kendaraan umum.
Ketersediaan fasilitas kendaraan umum yang memadai dalam hal penempatan penyediaannya akan mendorong orang untuk berjalan lebih jauh daripada tidak tersedia fasilitas ini secara merata.
Pola guna lahan dan kegiatan.
Berjalan di pusat perbelanjaan terasa menyenangkan sampai dengan jarak 500 meter. Lebih dari jarak ini, perlu fasilitas lain yang dapat mengurangi kelelahan orang berjalan, misalnya adanya tempat duduk dan kios makanan/minuman.
b. Karakteristik perilaku
Perilaku pejalan kaki dapat menyebabkan bertambahnya ruang untuk pejalan kaki. Perilakunya antara lain pejalan kaki yang membawa payung, keranjang belanja, atau kebiasaan untuk berjalan bersama sambil berbincang, membutuhkan tambahan lebar jalur pejalan kaki.
c. Karakteristik psikis
Karakteristik psikis pejalan kaki berupa preferensi psikologi yang diperlukan untuk memahami keinginan-keinginan pejalan kaki ketika melakukan aktivitas berlalu lintas. Pejalan kaki lebih suka menghindari kontak fisik dengan pejalan kaki lainnya dan biasanya akan memilih ruang pribadi yang lebih luas, sehingga perlu jarak membujur yang memadai agar bisa bergerak dengan nyaman.
d. Karakteristik lingkungan
Terdapat beberapa karakteristik lingkungan yang berperan dalam tingkat pelayanan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki yang menjadi dasar kriteria perancangan prasarana dan sarana jaringan pejalan kaki, yaitu:
- Kenyamanan, seperti ketersediaan pelindung terhadap cuaca dan halte angkutan umum.
- Kenikmatan, seperti kemampuan berjalan kaki dan ketersediaan tanda petunjuk.
- Keselamatan, seperti keamanan pejalan kaki dengan lalu lintas kendaraan.
- Keamanan, seperti ketersediaan lampu lalu lintas, kepastian pandangan yang tidak terhalang ketika menyeberang, tidak licin, dan kesesuaian besaran ruang untuk pejalan kaki dengan kondisi lingkungan.
- Keekonomisan, seperti efisiensi biaya pejalan kaki yang berhubungan dengan tundaan perjalanan dan ketidaknyamanan.
- Keterkaitan antar kegiatan dan moda transportasi lainnya serta jenis penggunaan lahan atau kegiatan.
Elemen dan Kriteria Pedestrian
a. Jalur Pejalan Kaki
Jalur pejalan kaki adalah ruang yang digunakan untuk berjalan kaki atau berkursi roda dirancang berdasarkan kebutuhan orang untuk bergerak aman, mudah, nyaman dan tanpa hambatan.
Permukaan jalur pejalan kaki harus menggunakan material yang aman dan tahan lama seperti batu andesit, paving atau lainnya dan tidak boleh kurang dari 1,2 meter yang merupakan lebar minimum. Adapun kriteria jalur pejalan kaki adalah sebagai berikut:
- Apabila pejalan kaki keberadaannya sudah menimbulkan konflik dengan lalu lintas kendaraan atau mengganggu peruntukan lain, seperti taman, dan lain-lain.
- Pada lokasi yang dapat memberikan manfaat baik dari segi keselamatan, keamanan, kenyamanan dan kelancaran.
- Jika berpotongan dengan jalur lalu lintas kendaraan harus terdapat rambu dan marka atau lampu yang menyatakan peringatan/petunjuk bagi pengguna jalan.
- Koridor Jalur Pejalan Kaki (selain terowongan) mempunyai jarak pandang yang bebas ke semua arah.
- Dalam merencanakan lebar lajur dan spesifikasi teknik harus memperhatikan peruntukan bagi penyandang cacat.
b. Halte
Halter merupakan sebuah bangunan beratap terletak di median jalan yang digunakan untuk pergantian moda, yaitu dari pejalan kaki ke moda kendaraan umum. Halte dapat ditempatkan di atas trotoar atau bahu jalan dengan jarak bagian paling depan dari halte sekurang-kurangnya 1 meter dari tepi jalur lalu lintas. Persyaratan struktur bangunan memiliki lebar minimal 2 meter, panjang 4 meter dan tinggi bagian atap yang paling bawah minimal 2,5 meter dari lantai. Adapun kriteria halte adalah sebagai berikut:
- Jarak antar halte/shelter bus dan lapak tunggu pada radius 300 meter dan pada titik potensial kawasan.
- Menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi seperti metal.
- Terlindung dari cuaca (panas atau hujan).
- Penempatan pada pinggir jalan yang padat lalu lintas.
- Panjang halte minimum sama dengan panjang bus kota, yang memungkinkan penumpang dapat naik atau turun dari pintu depan atau pintu belakang.
c. Ramp Tepi Jalan
Ramp merupakan alat bantu yang memudahkan pergerakan di atas penyangga yang lebih rendah. Permukaan ramp tidak boleh licin tetapi juga tidak boleh terdapat alur, karena alur ini dapat terisi air yang menjadikan ramp tersebut licin. Ramp dibuat dengan kemiringan antara 7 sampai 15 derajat dan maksimum 20 derajat. Adapun kriteria ramp tepi jalan adalah sebagai berikut:
- Tidak boleh lebih tinggi dari tinggi maksimum satu anak tangga atau 6 ½ inci.
- Tepi yang berundak menyulitkan bagi para cacat fisik untuk menjalaninya dan ketika gelap akan membahayakan semua pejalan kaki. Penggunaan ini harus dibatasi.
- Peletakan ramp tepi jalan biasanya pada jalan menuju bangunan, jalan menuju trotoar (bagi cacat fisik).
d. Guiding Block
Jalur pedestrian juga harus terdapat vasilita untuk para penyandang cacat supaya memudahkan mereka melakukan pergerakan. Guiding blok berfungsi sebagai jalur pemandu untuk penyandang disabilitas khususnya tunanetra. Guiding blok letaknya berada di sepanjang jalur pedestrian.
e. Vegetasi
Jalur pejalan kaki harus dibuat sedemikian rupa, sehingga apabila hujan permukaannya tidak licin, tidak terjadi genangan air serta lebih baik untuk dilengkapi dengan vegetasi atau pohon-pohon peneduh. Vegetasi Ditempatkan pada jalur tanaman (minimal 150 cm), percabangan 2 meter diatas tanah, bentuk percabangan tidak merunduk, bermassa daun padat dan ditanam secara berbaris. Jenis dan bentuk pohonnya antara lain Angsana, Tanjung dan Kiara Payung.
f. Penerangan
Lampu terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak yaitu 10 meter antara satu dan lainnya. Lampu harus memiliki tinggi maksimal 4 meter. Menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi seperti metal dan beton cetak. Desain sederhana, geometris, modern futuristis, fungsional, terbuat dari bahan anti validalism terutama bola lampu. Adapun kriteria lampu penerangan adalah sebagai berikut:
- Ditempatkan pada jalur penyeberangan jalan.
- Pemasangan bersifat tetap dan bernilai struktur.
- Cahaya lampu cukup terang sehingga apabila pejalan kaki melakukan penyeberangan bisa terlihat pengguna jalan baik di waktu gelap/malam hari.
- Cahaya lampu tidak membuat silau pengguna jalan lalu lintas kendaraan.
g. Tempat Duduk
Vasilitas duduk terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak antar tempat duduk yaitu 10 meter. Tempat duduk harus mempunyai dimensi lebar 0,4- 0,5 meter dan panjang 1,5 meter. Menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi seperti metal dan beton cetak.
h. Batas Pengaman
Pagar terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki pada titik tertentu yang memerlukan perlindungan. Pagar minimal mempunyai tinggi 0,9 meter. Menggunakan material yang tahan terhadap cuaca dan kerusakan, seperti metal dan beton.
i. Tempat Sampah
Tempat sampah terletak di luar ruang bebas jalur pejalan kaki dengan jarak antar tempat sampah yaitu 20 meter. Desain dari ketinggian tempat sampah harus dapat terjaungkau tangan dalam memasukkan kotoran/sampah (tinggi 60 – 70 cm). Jenis tempat sampah bisa dengan tipe yang berbeda-beda sesuai dengan fungsinya (tempat sampah kering dan tempat sampah basah). Tempat sampah haruslah mudah dalam sistem pengangkutannya serta menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi seperti metal dan beton cetak.
j. Marka, Perambuan dan Papan Informasi
Rambu merupakan alat utama yang mengatur, memberi peringatan, dan mengarahkan terhadap pengguna jalan agar pengguna jalan dapat dengan mudah terarah pada suatu tempat tujuan. Rambu yang efektif yakni memenuhi kebutuhan, menarik perhatian dan mendapat respek pengguna jalan, memberikan pesan yang sederhana, dan juga menyediakan waktu yang cukup bagi pengguna jalan dalam memberikan respon. Adapun kriteria marka, rambu dan papan informasi adalah:
- Terletak ditempat terbuka, ketinggian papan reklame yang sejajar dengan kondisi jalan.
- Tanda petunjuk ini memuat tentang lokasi dan fasilitasnya.
- Tidak tertutup pepohonan.
- Menggunakan material yang memiliki durabilitas tinggi dan tidak menimbulkan efek silau.

Bagaimana Pedestrian di Indonesia?
Pedestrian di Indonesia diatur dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 3 Tahun 2014 tentang Pedoman Perencanaan, Penyediaan, dan Pemanfaatan Prasarana dan Sarana Jaringan Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan.
Peraturan ini menegaskan fungsi pedestrian sebagai jalur penghubung, ruang interaksi sosial, pendukung keindahan kota, dan jalur evakuasi bencana. Selain itu, peraturan mengamanatkan fasilitas pedestrian harus ramah difabel dan beberapa poin berikut:
- Meningkatkan Keamanan Pejalan Kaki
Pedestrian dirancang khusus agar pejalan kaki dapat berjalan dengan aman, terpisah dari kendaraan bermotor. Hal ini mencegah kecelakaan dan meminimalkan risiko bahaya bagi pengguna jalan. - Mendukung Kenyamanan dan Kelancaran Pergerakan
Jalur pedestrian memudahkan pergerakan pejalan kaki dari satu titik ke titik lain secara lancar dan nyaman tanpa gangguan lalu lintas kendaraan. - Mendorong Aktivitas Sosial dan Ekonomi
Pedestrian yang baik membuka ruang untuk interaksi sosial, merangsang berbagai kegiatan ekonomi sehingga akan berkembang kawasan bisnis yang menarik. - Meningkatkan Estetika dan Fungsi Ruang Kota
Selain berfungsi sebagai jalur pejalan kaki, pedestrian menjadi elemen pendukung keindahan kota dan ruang terbuka yang nyaman bagi masyarakat. - Memenuhi Standar Aksesibilitas dan Kesetaraan
Pedestrian harus memenuhi persyaratan aksesibilitas, termasuk untuk penyandang disabilitas, agar setiap orang dapat menggunakan jalur pejalan kaki tanpa hambatan.
Kenapa Batu andesit Direkomendasikan untuk Pedestrian?
Batu andesit merupakan salah satu batu alam yang populer untuk flooring pedestrian karena berbagai kelebihan dan manfaatnya. Berikut penjelasan ringka karakteristik Batu Andesit dan kenapa direkomendasikan untuk Flooring Pedestrian
- Terbentuk dari Proses Vulkanik
Batu andesit adalah batuan beku ekstrusif yang terbentuk dari pendinginan lava gunung berapi di permukaan bumi. Proses ini menghasilkan struktur batu yang padat dan halus dengan butiran mineral yang kuat. - Komposisi Mineral yang Kuat
Terdiri dari mineral plagioklas, piroksen, dan hornblende yang membuat batu ini sangat keras dan tahan terhadap tekanan serta gesekan. Mineral tersebut memberikan ketahanan yang optimal untuk area dengan lalu lintas pejalan kaki tinggi. - Struktur Padat dan Tahan Lama
Batu andesit memiliki struktur padat dan kompak sehingga tidak mudah pecah atau retak. Sifat ini penting untuk flooring pedestrian agar lantai tidak cepat rusak meskipun sering dilalui banyak orang. - Permukaan Alami Anti Selip
Tekstur alami batu andesit yang sedikit kasar memberikan daya cengkeram yang baik. Dengan demikian, lantai pedestrian menjadi aman untuk berjalan, khususnya saat permukaan basah atau hujan. - Tahan terhadap Cuaca Ekstrem
Batu ini tahan terhadap perubahan suhu, hujan, dan sinar matahari langsung. Sifat tahan cuaca ini membuatnya awet untuk penggunaan outdoor seperti pedestrian. - Estetika Alami dan Netral
Warna abu-abu dan pola alam batu andesit memberikan kesan natural dan elegan yang mudah dipadukan dengan lingkungan sekitar. Estetika ini meningkatkan daya tarik visual pedestrian. - Perawatan Mudah dan Ramah Lingkungan
Batu andesit mudah dibersihkan dan tidak memerlukan perawatan khusus. Sebagai bahan alami, batu ini juga ramah lingkungan dan tidak menghasilkan limbah berbahaya.
Penggunaan batu andesit sebagai flooring pedestrian sangat tepat karena kombinasi kekuatan, keamanan, dan keindahan alaminya. Oleh karena itu, banyak proyek pedestrian mengandalkan batu andesit untuk kualitas dan daya tahan jangka panjang.
Apa SajaBatu andesit yang Cocok untuk pedestrian?
Berikut penjelasan singkat mengenai jenis-jenis batu andesit yang cocok untuk pedestrian:
- Batu Andesit Bakar (Flame Finish)
Jenis ini cocok karena memiliki permukaan kasar hasil proses pembakaran. Teksturnya yang tidak licin sangat aman untuk pedestrian, terutama di area yang sering basah atau berisiko licin. Batu andesit bakar tahan lama dan memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca. - Batu Andesit Rata Mesin (RTM)
Memiliki permukaan halus dengan bekas potongan mesin gergaji. Batu jenis ini memberikan tampilan rapi dan modern, cocok untuk pedestrian yang mengutamakan estetika serta kemudahan perawatan. Meskipun halus, teksturnya tetap memberikan kestabilan. - Batu Andesit Rata Alam (RTA)
Permukaan batu ini mengikuti tekstur alami batu andesit tanpa proses pemolesan. Memberikan kesan alami dan estetik yang kuat, cocok untuk pedestrian dengan desain yang lebih natural dan tradisional.
Batu andesit merupakan pilihan material flooring yang sangat tepat untuk jalur pedestrian. Struktur batu ini yang terbentuk dari proses vulkanik menghasilkan batuan yang padat, keras, dan tahan lama. Komposisi mineralnya menjamin kekuatan terhadap beban serta ketahanan terhadap cuaca dan gesekan.
Dengan pengalaman Futastone sebagai pemasok terpercaya batu andesit untuk proyek strategis seperti flooring pedestrian kawasan IKN, Istana Wakil Presiden di IKN, dan Jembatan Pandansimo, Anda dapat mempercayakan kebutuhan material pedestrian batu andesit pada kami untuk kualitas dan layanan terbaik.
Futastone siap membantu anda untuk pedestrian terbaik. Kontak kami untuk berkonsultasi: 0823-2220-4090 (Putra Yudha)
FAQ
Apa itu batu andesit?
Batu andesit adalah batuan vulkanik yang keras, tahan cuaca, dan bertekstur kasar, cocok untuk flooring pedestrian.
Mengapa batu andesit cocok untuk pedestrian?
Karena kekuatannya, permukaan anti licin, ketahanan terhadap cuaca, serta mudah perawatannya.
Apa saja jenis batu andesit untuk pedestrian?
Jenis utama meliputi andesit bakar (permukaan kasar dan anti licin), andesit rata mesin (halus dan modern), serta andesit rata alam (alami dan estetik).